Tuesday, April 29, 2014

Kasih Ibu Sepanjang Masa - Seorang anak meninggalkan rumah setelah bertengkar dengan ibunya. Dia pun berjalan tanpa arah, ketika dia merasa lapar, dia merogoh kantung celananya dan alangkah terkejutnya dia ketiak  menyadari bahwa dia sama sekali tidak membawa uang. Dia berjalan melewati sebuah kedai miesop, ingin dia memesan semangkuk miesop tapi dikantongnya tidak ada sepeser uang pun.
Pemilik warung miesop melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, ia lalu bertanya ”Nak, apakah kau ingin memesan miesop?”

“Ya, tetapi aku tidak mempunyai uang,” jawab anak itu segan.

”Tak ape-ape dik, anggap saja ini traktiranku,”jawab si pemilik kedai.

Karena rasa lapar yang tak tertahankan lagi, anak itu pun tidak segan menolak tawaran itu, dia segera makan. Namun tiba-tiba air matanya mulai berlinang. ”Kamu kenapa dik?”Tanya si pemilik kedai. Anak itu melihat ke arah pemilik warung dan berkata, ”Tak ape-ape, aku hanya terharu karena engkau seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk miesop, lain dengan ibuku sendiri malah mengusirku dari rumah ketika kita bertengkar tadi. Engkau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.”

Pemilik kedai itu heran dan ia pun berkata, ”Dik, kenapa kamu berpikir begitu? Coba kamu pikir baik-baik, aku hanya memberimu semangkuk miesop dan kamu begitu terharu. Sedangkan ibumu telah memasak nasi, sayuran, daging, dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu lebih berterima kasih kepadanya.”

Anak itu seperti tersadar dan kaget mendengar hal tersebut, ”Mengapa hal itu tidak terpikirkan olehku? Aku menjadikan hal tersebut(memasak) sebagai kewajibannya sesuka hatiku. Untuk semangkuk miesop dari orang yang baru kukenal aku merasa begitu berterima kasih, akan tetapi ibu yang memasak untukku selama bertahun-tahun, bahkan tidak aku pedulikan. Aku.. Aku begitu durhaka.”

“Baguslah kalau kamu mengerti nak. Segera baikan dengan ibumu setelah kamu selesai makan miesop tersebut”. Kata pemilik warung sambil tersenyum.

Segera anak itu menghabiskan miesopnya lalu dia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, dia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulut ibu adalah “Nak, akhirnya kamu pulang, ayo cepat masuk, ibu sudah menyiapkan makan malam untukmu.”

Anak kecil itu pun tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.


Bagaimana kesan kalian setelah membaca cerita diatas? Sayangilah orangtua kalian selama mereka masih hidup.

Salam Admin,
=.=a

Friday, April 25, 2014

Nelayan Yang Santai - Seorang pria kaya terkejut ketika menjumpai seorang nelayan di pantai. Nelayan itu sedang santai berbaring bermalas-malasan di samping perahu sampannya, sambil memegang sebatang rokok. Pria kaya itu kemudian bertanya “Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?” “Ikan yang kutangkap telah menghasilkan uang yang cukup untuk melewati hari ini,” jawab sang nelayan.


“Mengapa kau tidak pergi menangkap lebih banyak lagi?” tanya pria kaya itu lagi.

“Untuk apa?” balas sang nelayan.

“Kau kan dapat menghasilkan uang yang lebih banyak,” jawab pria kaya. “Dengan uang itu kau dapat membeli mesin untuk perahu sampanmu, sehingga kau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian kau akan mempunyai uang untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan yang lebih banyak lagi artinya uang yang kamu peroleh akan semakin banyak juga. Uang tersebut nantinya bahkan cukup untuk membeli dua kapal… tidak.. bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku.”

“Setelah kaya aku mau ngapain?” tanya si nelayan.

“Setelah itu kamu bisa beristirahat dan menikmati hidup sepertiku,” kata pria kaya tersebut.

“Tidak masalah.. Tanpa berusaha sekeras itu pun saat ini aku juga santai nih” kata sang nelayan  puas.

Terkadang kita terlalu cepat merasa puas akan kondisi kita saat ini, tanpa kita sadari bahwa di dunia ini masih banyak hal yang belum kita jajahi.

Salam Admin,

=.=a

Friday, March 28, 2014

Cara Memperoleh Uang Monyet - Pada suatu hari ada seorang pria kaya memasang pengumuman di sebuah desa, disana tertulis bahwa dia akan membayar Rp.200.000,00 (Dua ratus ribu rupiah) untuk setiap monyet yang berhasil ditangkap dan diserahkan kepadanya. Para penduduk yang melihat pengumuman itu tertarik dan mereka pun mulai memburu monyet yang ada di hutan dekat dengan desa tersebut.


Keesokan harinya sang pria kaya dikejutkan oleh para penduduk yang datang ke kediamannya. Mereka membawa 800 ekor monyet untuk diserahkan padanya. Pria kaya tersebut lalu tersenyum dan menyuruh asistennya untuk segera mengeluarkan uang untuk membayar mereka.  Monyet-monyet tersebut kemudian dimasukkan kedalam sebuah kandang raksasa.

Keesokan harinya lagi, pria kaya itu hanya memperoleh 200 ekor monyet dari para penduduk. Dan jumlah itu semakin berkurang tiap harinya. Para penduduk mulai bosan menangkap monyet karena merasa harganya terlalu murah. Mendengar akan hal tersebut sang pria kaya kembali memasang pengumuman yang baru. Disana tertulis bahwa dia akan membayar Rp.500.000,- untuk setiap monyet yang berhasil ditangkap dan diserahkan padanya.

Melihat pengumuman tersebut para penduduk kembali semangat untuk menangkap monyet. Namun apadaya jumlah monyet di hutan tersebut hampir nihil karena ditangkap oleh mereka sebelumnya. Sehingga pada keesokan harinya pria kaya tersebut hanya memperoleh 100 ekor monyet. Dan jumlah itu berkurang pesat setiap harinya. Bahkan pernah sehari Cuma diserahkan satu ekor monyet. Melihat hal tersebut pria kaya tersebut kemudian mengeluarkan pengumuman baru lagi. Dia akan membayar Rp. 1000.000,- untuk setiap monyet yang berhasil ditangkap dan diserahkan padanya.

Namun karena monyet di hutan tersebut sudah bisa dikatakan nihil. Maka tawaran itu hanya dapat menggiurkan hati para penduduk. Ada yang menggerutu “andai waktu itu tidak cepat-cepat kujual monyetnya kurasa sekarang hidupku sudah makmur”. Namun apa daya semua sudah telat. Para monyet yang ada di hutan tersebut semua sudah dibeli oleh pria kaya tersebut.

Karena bosan menunggu dan tidak ada yang menyerahkan monyet lagi kepadanya, sang pria kaya itu memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan menyerahkan urusan jual beli monyet tersebut kepada asistennya. Namun hingga hari keberangkatan pria kaya tersebut tiba, tidak ada satupun monyet yang diserahkan kepada mereka. Sehingga ketika sang pria kaya telah pergi, sang asisten mengeluarkan pengumuman kepada para penduduk. Disana asisten tersebut menulis bahwa dia akan menjual semua monyet yang telah dikumpulkan oleh para penduduk selama ini seharga Rp. 600.000,-/ekor. Dan nantinya monyet-monyet tersebut dapat dijual seharga Rp.1000.000,- kepada pria kaya tersebut ketika dia kembali nanti. Mendengar hal tersebut siapa yang tidak tergiur?

Berbondong-bondong orang datang ke kediaman pria kaya untuk menjumpai sang asisten. Para monyet tersebut pun dikeluarkan satu per satu dari kandang raksasa dan sang asisten kemudian menjual semua monyet tersebut seharga Rp.600.000,-/ekor. Para monyet tersebut laris manis, bahkan tak bersisa satupun di kediaman pria kaya itu. Betapa bahagianya para penduduk mengira bahwa mereka akan kaya mendadak setelah pria kaya itu kembali nanti.

Namun seperti yang pembaca prediksi, mereka telah ditipu dan uang mereka tentunya dilarikan. Namun rapopo setidaknya ada monyet yang menemani mereka. 

Source: Facebook post
Salam Admin,
=.=a  




Tuesday, February 11, 2014

Hargai Hidupmu - Tidak tahu kenapa tapi aku merasa kesialan selalu menimpa hidupku. Aku yang sekarang berumur 17 tahun harus kehilangan orangtuaku diusia 8 tahun. Tak percaya lagi aku akan Tuhan yang selalu di puja oleh orang-orang karena kurasa dia tidak pernah datang menolongku ketika aku membutuhkannya, bahkan ketika saat itu.

Hari itu, tepat pada hari kelahiranku. Dokter harus memutuskan untuk membunuh salah seorang anak yang dilahirkan oleh ibuku. Ibuku melahirkan bayi kembar. Ya.. Itu aku dan adikku. Kami terlahir dengan posisi yang sangat aneh. Tubuh kami gempet, dan kami hanya diberikan satu jantung. Jantung itu tidak akan mampu bertahan untuk dua orang ketika dewasa nanti sehingga pihak dokter mengusulkan harus membunuh salah seorang anak. Meski tak tahu apa yang dikatakan mereka saat itu, namun aku seperti mengerti apa maksud mereka. Jadi aku pun memohon kepada tuhan, "Tuhan, jika kamu memang ada dan adil. Tolong ambillah nyawaku. Buatlah mereka memutuskan untuk membunuhku dan biarkan adikku tumbuh dengan sehat setelah aku pergi nanti". 

Namun, doa itu seperti pesan yang tak pernah tersampaikan. Aku tumbuh dengan badan yang sehat dengan mengorbankan nyawa adikku. Dalam diriku terus terasa rasa kasihan kepada adikku. Namun rasa itu perlahan mulai pudar berkat kedua orangtua ku. Mereka tidak pernah menyalahkanku, mereka tidak pernah menggungkit akan kematian adikku. Aku merasa sangat bahagia jika ada mereka. Namun kebahagiaanku hilang setelah saat itu.

Hari itu, tepat pada hari ulang tahunku yang ke-8. Ayah dan ibu mengajakku untuk pergi ke sebuah restoran untuk merayakan ulang tahunku. Aku tidak mendapatkan firasat buruk pada hari itu, namun apa daya, mobil yang kami tumpangi ditabrak oleh sebuah truk yang melaju dengan cepat menerobos lampu merah. Aku yang berada di jok belakang selamat dengan luka luka kecil. Namun tidak dengan kedua orangtua ku yang duduk di jok depan. Ketika aku melihat ke arah mereka. Aku melihat darah keluar dari mulut dan hidung mereka. Aku terus memanggil mereka, namun mereka tidak menjawabku. Kepalaku terasa hampa. Sekali lagi aku berdoa kepada Tuhan, aku berharap agar ketika aku membuka mataku nanti. Aku dapat melihat kedua orangtua ku tetap tersenyum seperti biasa bersamaku. Namun berapa kali pun kukedipkan mataku, aku tetap melihat pemandangan yang sama. Aku memohon sekali lagi, kali ini aku memohon, "Tuhan, tidak tahu kamu itu ada atau tidak, ini terakhir kali aku percaya akan keberadaanmu. Jika kamu memang ada dan mendengar doaku ini. Aku mohon.... Aku mohon ambillah nyawaku sebagai ganti kedua orangtua ku. Biarlah mereka hidup hingga tua bersama. Itulah keinginan terbesarku". 

Tapi, sungguh tidak adil. Ketika aku membuka mataku aku tetap melihat pemandangan yang sama. Segerombolan orang datang ke tempat kami, mereka membuka pintu yang penyot itu dengan paksa. Mereka segera mengeluarkan ayah dan ibuku, kemudian mereka mengangkat aku yang saat itu terbengong seperti patung. Segera mobil ambulance segera membawa tubuh ayah dan ibuku. 

Aku seperti orang gila saat itu, kuputuskan bahwa tuhan itu tidak ada dan aku tidak akan percaya lagi padanya. Setelah itu aku pun hidup bersama paman dan bibiku. Kesepian kehilangan kedua orangtuaku mulai ditutupi oleh kehadiran mereka berdua. Mereka tidak dikaruniai anak, jadi mereka begitu senang ketika mengadopsiku. Bersama mereka membuatku seperti sedang bersama kedua orang tuaku. Meski bibi dan pamanku tergolong kurang mampu tapi tak terasa aku sudah hidup bersama mereka selama 9 tahun. Sekarang umurku sudah 17 tahun, dan aku sudah beranjak menjadi seorang remaja. Ada seorang gadis manis yang menjadi pacarku. Dia amat imut dan aku sangat sayang padanya. Namun suatu hari hanya gara-gara kesalahan kecil. Aku marah padanya, dan aku tidak mau menghiraukannya pada hari itu. Ketika pulang dirumah dengan perasaan yang bete. Bibiku menghampiriku. Dia berkata dengan lembut padaku, menanyaiku apakah aku sudah makan, namun karena kekesalanku pada pacarku. Aku malah membentaknya. “BELUM!! BAGAIMANA AKU BISA MEMAKAN MAKANAN YANG SAMA HAMPIR SETIAP HARI??”. Baru pertama kali ini aku melihat wajahnya begitu sedih. “Kamu kenapa nak? Ada apa denganmu hari ini? Apa ada masalah?”, Tanya bibi padaku dengan lembut. Namun aku begitu tak tahu diri saat itu. Aku kembali membentaknya, “SUDAH!! JANGAN CAMPURI URUSANKU.. KALAU KAMU BEGITU MEMPERHATIKANKU KENAPA KAMU TIDAK KELUAR DAN MEMBELI MAKANAN LEZAT UNTUKKU?”, Bentakku dengan suara yang keras. Ketika itu paman tidak ada dirumah karena masih kerja. Kulihat ekspresi muka bibi berubah. Dia seperti hendak menangis. Namun emosiku saat itu menjadikanku seperti orang lain. Tanpa merasa bersalah aku segera berjalan ke arah kamarku. Sebelum masuk ke kamar aku melihat kearahnya. Dia menangis, baru pertama kali itu aku melihat dia menangis, kemudian aku melihat dia berjalan keluar dari rumah. Aku menghiraukannya dan masuk ke dalam kamarku.

Selang beberapa waktu kemudian paman pulang ke rumah. Dia bertanya padaku kemana bibi pergi. Aku tak berani mengatakan kebenaran padanya, jadi aku hanya bilang bahwa dia pergi keluar. “Oh... Apakah dia pergi membeli kado ultahmu?”, Kata Pamanku. Apa??? Hari ini ternyata hari ulang tahun ku. Aku bahkan tidak sadar akan itu. Aku jadi merasa bersalah pada bibi. Kuputuskan untuk meminta maaf padanya ketika dia balik nanti. Rasa lapar mulai menghampiriku. Akan tetapi bibi masih belum balik. Aku membuka lemari makanan. Dan betapa terkejutnya diriku ketika aku melihat berbagai hidangan lezat berada didalam lemari itu. Dan.... dan... aku melihat sebuah kue yang dihias begitu indah. Aku dapat melihat namaku tertera diatas kue itu. Sial... apa yang kulakukan padanya? Aku.. AKU DURHAKA!!! Berkali-kali aku memukul kepalaku sendiri. Tiba-tiba aku sadar bahwa bibi belum juga kembali. Aku mendapatkan firasat yang buruk, tanpa kusadari kakiku segera bergerak dan berlari keluar dari rumah meninggalkan pamanku.

Aku berlari tanpa tujuan, dengan harapan dapat menemukan bibiku. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku merasa sangat bersalah. Jika aku menemukannya nanti, aku berjanji akan memperlakukannya dengan sangat baik dan tak akan pernah mengecewakannya lagi. Aku akan jadi anak yang berbakti. Jadi tolong.. Kepada siapapun yang mendengar isi hatiku. Tolong lindungilah dia, jangan sampai hal buruk menimpa dirinya. Ketika aku hampir menyerah karena tidak menemukan bibi. Tiba-tiba aku melihat seorang wanita di todong dari seberang jalan. Wanita itu mirip sekali dengan bibiku. Tidak.. itu memang bibi!! Tanpa berpikir panjang aku segera menjerit minta tolong, dan segera berlari ke arah bibiku. 
Aku sampai di depan bibiku dan kuhajar perampok itu hingga pingsan. Bibi kemudian memelukku sambil menangis. Yah.. itulah gambaran yang kudapat di mimpiku. 
Setidaknya meskipun hanya di mimpiku aku dapat membalas budi bibiku. Ketika aku melihat bibi di todong di seberang jalan. Tanpa kusadari aku segera menjerit minta tolong dan berlari menerobos jalanan yang dilewati oleh mobil dengan kecepatan yang tinggi. Ketika hampir sampai ke tempat bibiku, sebuah mobil yang lewat menabrakku dengan kecepatan yang tinggi. Perampok yang hendak merampok bibiku terkejut dan segera melarikan diri. Bibi terpaku melihat kejadian itu terjadi di depan matanya. Aku, bocah 17 tahun yang tak tahu diri tewas pada hari itu.. hari ulang tahunku. 

Kukira aku bisa menghabiskan hari ulang tahunku seperti tahun sebelumnya dengan paman dan bibiku. Kukira aku akan dapat membalas budi mereka berdua ketika aku mapan nanti. Kukira aku..... aku....... Sial.. semua terjadi karena keegoisanku. Kini aku berada di sebuah tempat yang jauh. Seorang bayi terkejut ketika melihatku. Aku melihat sekeliling banyak sekali orang yang terbang kesana kemari.. terbang??? Apa-apaan ini? Ahh.. aku sadar.. mereka itu adalah roh orang yang sudah mati. Aku melihat sekeliling mencari sosok ayah dan ibuku. Dan ternyata aku berhasil menemukan mereka, Mimik wajah mereka tampak begitu sedih. 

Tiba-Tiba ada sebuah suara mengiang di telingaku. Dia berkata, “Kamu berkali-kali ditolong ketika aku hendak melaksanakan tugasku, tahukah kamu betapa kamu dicintai di kehidupanmu dulu?”. Aku tak tahu siapa pemilik suara itu, dia lalu lanjut berkata, “Begitu banyak orang yang ingin mengantikan kematianmu”. Ah.. apakah dia malaikat kematianku?. “Ketika kamu lahir dulu. Seharusnya kamulah yang harus berkorban, namun saudara kembarmu memohon hingga mengancam akan membunuh dirinya sendiri jika dia yang dibiarkan hidup”. “Ingatkah dirimu akan hari ulang tahunmu yang ke 8?, Kecelakaan itu seharusnya merengut nyawamu. Namun kedua orang tuamu terus berdoa akan keselamatanmu. Mereka berdua bahkan rela mengorbankan nyawa mereka agar kamu dapat hidup lebih lama. Dan mereka juga meminta padaku agar kamu diberikan penjaga yang amat menyayangimu ketika mereka pergi nanti. Ya.. mereka adalah paman dan bibimu”. Namun kau amat membuatku kecewa. Hanya akibat perselisihanmu yang tak seberapa itu. Tak tahukah dirimu betapa susahnya bibimu mendapatkan makanan enak itu? Dia bahkan menjual kalung pemberian ibundanya. Bukannya memarahimu, dia malah keluar untuk membelikan daging ayam yang utuh. Namun kamu berhasil menolongnya dari perampok itu. Dia hendak membunuh bibimu jika kamu tidak datang saat itu juga.

Aku baru tahu bahwa hidupku begitu berharga. Banyak sekali orang yang menjagaku, melindungiku, membantuku. Dan aku selalu mengoceh akan hal itu? Munafik.. Tak banyak yang bisa kulakukan dengan tubuhku saat ini. Aku hanya dapat meminta kepada malaikat itu agar dia mengkaruniai paman dan bibiku rezeki yang berlimpah, dan biarkanlah mereka hidup sampai tua bersama. Dan satu lagi yang kuharap dia dapat mengabulkannya. Kali ini aku percaya lagi akan keberadaan mereka. 
“Tolonglah.. Kali ini saja. Tolong lahirkan saudara kembarku yang rela berkorban untukku sebagai anak dari paman dan bibiku. Aku ingin melihat mereka memiliki seorang anak. Itulah harapan terbesarku”. Dan Terima Kasih kedua Orang Tuaku.


Terima kasih juga para pembaca.. 
Well... At last cerita aneh ini berakhir juga.. inilah cerita karangan Admin yang ke-5. Harap bapak-bapak/ibu-ibu/tante-tante/adik-adik/kakak-kakak/abang-abang menyukainya.

Salam Admin,
=.=a


  













Perjuangan - Cerita ini bukan mengenai diriku. Namun kali ini aku akan bercerita tentang kawan baikku. Nama panggilannya Lydia. Dia kabur dari rumah meninggalkan ayah dan abangnya. Yahh.. Tidak heran kalau dia melarikan diri, Ayahnya terus menerus menyiksanya, bahkan abangnya sering memukulinya. Aku masih ingat malam itu, ketika dia memberitahuku bahwa abangnya telah memperkosanya. Berkali-kali aku menyuruhnya untuk memberitahu orang lain akan nasibnya itu, namun dia tetap berkata.... "Tidak ada orang lain yang akan mengerti dan membantuku".


Aku membantunya sebisaku. Aku memberinya uang, dan menawarkan tempat tinggal untuknya selama beberapa hari. Namun dia memberitahuku hal yang mengejutkan! Dia hamil.. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Jadi aku mengijinkannya untuk bersembunyi di rumahku sampai dia sanggup untuk berusaha sendiri. Namun orangtua-ku tidak mengijinkannya untuk menetap terlalu lama karena kesannya dimata orangtuaku kurang baik. Jadi dia hanya tinggal selama beberapa hari, dan kemudian dia pun pergi.

Dia meneleponku seminggu setelah dia meninggalkan rumahku. Dia berkata bahwa dia akan melahirkan!! dan dia ingin aku segera datang ke tempatnya. Aku menyuruhnya untuk memanggil ambulan, namun dia menutup teleponnya. Jadi aku terpaksa menelepon ambulan untuknya. Dia pun segera diantar ke rumah sakit, dan aku segera menyusul kesana. Hmmm... Bayinya lahir prematur, lebih cepat 2 bulan. Namun hal yang lebih buruk lagi terjadi. Pihak rumah sakit berhasil menghubungi ayah dan abangnya, dan mereka disuruh untuk datang ke rumah sakit. Aku tau apa yang akan terjadi nantinya, namun apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa menunggu.

Hmm... 2 Minggu setelahnya dia diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit bersama ayahnya. Dia kemudian meneleponku untuk meminta pertolonganku, suara tangisannya begitu jelas di telepon. Aku mendengar suara seperti cambuk yang dipukul ke lantai, terdengar 5 kali kemudian suara itu lenyap. Aku terdiam dan tak tahu apa yang mau kukatakan, lalu tiba-tiba seorang pria mengangkat teleponnya dan mengancam akan membunuhku jika aku membeberkan hal yang terjadi pada Lydia. Orang itu adalah ayahnya.

Aku merinding dan terpaku. Aku tidak pernah berbicara dengan Lydia selama 2 minggu lebih, namun dia tiba-tiba muncul di depan rumahku, Dia melarikan diri dari rumahnya. Dia meninggalkan bayinya di rumah sakit dimana dia bersalin, dan seperti orang yang tak bertanggung jawab. Kami berdua meninggalkan bayinya disana. Kami melarikan diri dari kampung halaman kami. Kami memutuskan akan kembali untuk menjemput sang bayi ketika emosi kami lebih stabil. Bayi itu kami namakan Fuerza yang berarti Kekuatan.

Ketika hari itu tiba. Kami kembali ke rumah sakit itu untuk menjemput Fuerza. Setelah menjemput sang bayi aku pun mengantar Lydia ke rumah yang kami. Beberapa bulan setelah itu Lydia mendapatkan pacar baru, namun kehidupannya bersama pacar barunya tidak berjalan baik, hal terakhir yang diberitahunya adalah agar aku menjaga bayinya.

Pada awalnya aku menghiraukan pesannya itu. Akan tetapi ketika aku menyadarinya, hal itu sudah telat. Dia bunuh diri dengan meneguk obat tidur dengan dosis yang luar biasa. Tanpa dapat berkata apa-apa. Aku segera membawa bayinya dan kembali ke rumah sewaanku. Setahun setelah itu, aku mencoba kembali ke rumah orangtuaku. Namun betapa terkejutnya aku ketika kulihat penghuni rumah itu bukan lagi kedua orangtuaku. Keluargaku telah pindah ke tempat lain. Aku kini sebatang kara, dengan beban seorang bayi denganku. Ayah, abang serta pacar Lydia terus mencari keberadaanku. Sampai hari ini aku masih tetap dicari oleh mereka. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak sengaja bertemu dengan mereka. Tapi seperti yang pernah dibilang Lydia, Tidak ada orang lain yang akan mengerti dan membantu kita. Maka dari itu aku harus mampu berjuang sendirian.

Salam Admin,
=.=a


Monday, January 20, 2014

Alien Pertama - Pada Tanggal 20 Juli 1969. Neil Armstrong menjadi orang pertama yang berhasil mendarat di bulan dengan menggunakan Pesawat ruang angkasa Apollo 11 bersama krunya.

Pada Tanggal 24 Juli 1969. Ada beberapa Alien datang dari bulan dan mendarat di bumi, mereka menggunakan pesawat ruang angkasa yang persis digunakan oleh Neil Armstrong yakni Apollo 11. Dan salah seorang alien mengaku juga bernama Neil Armstrong.
Salah Sendiri Tidak DIpakai - Ada seorang kakek bernama Bolo. Satu-satunya harta yang dimilikinya hanyalah domba betinanya. Suatu hari kakek ini memenangkan lotre dan mendapatkan Rp.100juta. Dia syok dan tak tahu mau diapakan uang tersebut, jadi dia memutuskan untuk menginap di hotel berbintang lima. Dia memesan ruangan yang paling mewah dan segera berjalan ke ruangannya sambil membawa dombanya. Manager hotel melihatnya dan menanyakan kemana dia hendak pergi. 


Kakek: Kemana aku pergi, dombaku pasti tetap ikut.
Manager: Maaf kek, tapi kamu tidak boleh membawa dombamu ke dalam ruang lingkup hotel. Tinggalkan domba itu disini, kami pasti akan merawatnya dengan baik.
Kakek: Baiklah kalau begitu.

Kakek Bolo pun meninggalkan dombanya dan berjalan ke ruangannya. Ketika dia membuka pintu, terkagumlah dia ketika melihat semua barang yang ada di ruangan terbuat dari emas. Terdapat meja penuh dengan makanan yang lezat, Sebuah televisi dengan ukuran yang luar biasa besar. Namun kakek Bolo tidak mau menyentuh apapun yang ada di ruangan, jadi dia memutuskan untuk melepaskan jaketnya yang butut dan tidur dilantai.

Keesokan paginya sang manager hotel datang ke ruangannya dan bertanya bagaimana pendapatnya selama berada di hotel tersebut.

Kakek: Menakjubkan!! jadi berapa biaya yang harus aku bayar?
Manager: 5 juta Rupiah untuk makanan.
Kakek: Lah?? Tapi aku tidak menyentuh makanan tersebut.
Manager: Makanan itu sudah termasuk dalam satu paket, jadi itu tetap dihitung meski tidak dimakan. Terus 8 Juta karena telah tidur di Springbed super mewah kami.
Kakek: Tapi aku tidur di lantai!!
Manager: Springbed juga sudah satu paket, jadi salahmu sendiri tidak kamu pakai. Namun kamu tetap harus membayar 8juta untuk itu.
Kakek: Ohhhh.. Kalau begitu kamu harus membayar 20juta karena telah bercinta dengan dombaku
Manager: Tidak.. Aku tidak bercinta dengan dombamu.
kakek: Apa yang tidak? Dombaku ada ditempatmu, Salahmu sendiri tidak kamu pakai. Namun kamu tetap harus bayar ganti rugi.

Salam Admin,
=.=a